Jangan takut untuk berinvestasi
1. Takut Gagal
Coba
perhatikan, sudah menjadi pemandangan
sehari-hari ketika akan melewati pintu tol dalam kota di Jakarta, terlihat
antrea panjang kendaraan yang hendak bayar. Untuk para pemilik kartu e-toll,
ada lajur khusus dan nyaris tidak perlu antre. Sangat praktis hanya perlu
tempelkan kartu di loket elektronik, gerbang terbuka, dan ngenggg hanya dalam
hitungan detik. Sementara itu, bagi yang melakukan secara tunai atau manual,
harus antre beberapa saat untuk sampai ke loket pembayaran.
Bahkan kemewahan
yang ditawarkan di jalur khusus tadi, ditambah lagi dengan iming-iming potongan
harga tarif tol sekian persen, tetap saja jalur antrean manual masih menjadi
idaman. Menggunakan kartu e-toll dan pertama kali melintas di jalur khusus,
mungkin cukup menakutkan bagi sebagian orang. Takut tersendat lama, dan
membayangkan pengemudi lainnya dibelakang menggerutu sambil membunyikan
klakson. Padahal kegagalan terbesar kita justru tercipta saat kita memutuskan
untuk tidak mencoba sesuatu yang baru, yang sebenarnya akan memberi manfaat
lebih untuk kita. Sama halnya dengan berinvestasi.
Cerita kegagalan
dalam berinvestasi kerap terjadi justru karena kita bukan berinvestasi,
melainkan berspekulasi. Membeli saham-saham terbaik (di industrinya), hampir
pasti selalu memberikan keuntungan setiap tahun, serta potensi kenaikan harga
dari waktu ke waktu.
2. Takut Ditipu
Hal berikutnya
adalah ketakutan membayangkan bahwa kita mungkin ditipu. Saham, reksadana,dan
obligasi adalah produk keuangan yang resmi di bawah pengawasan Otoritas Jasa
Keuangam(OJK). Instrumen-instrumen ini jelas real. Diluar sana sampai kapanpun
juga, tentu saja ada pihak-pihak yan berniat menipu, dalam berbagai bentuk.
Berpikir secara bijak dan memahami secara rasional produk-produk investasi
adalah langkah awal terbaik untuk terhindar dari risiko tertipu. Saham adalah
salah satu produk terbaik untuk kita memulai langkah awal untuk berinvestasi.
Takut dengan
hitung-hitungan yang rumit
Salah satu hal
yang membuat banyak orang enggan untuk berinvestasi adalah investasi sangat
identik dengan hitung-hitungan,angka-angka,pembukuan,dan matematika. Hal ini
memicu pemikiran tentang investasi yang njlimet. Analisis ini itu, perhitungan
sana-sini.
Buang semua
pemikiran yang seperti itu, kita tidak perlu membuat investasi terlihat menjadi
serumit itu. Tanpa bermaksud mengatakan bahwa investasi itu juga sesuatu yang
sangat mudah. Satu hal yang pasti, investasi itu sederhana. Seperti disebutkan
di atas, tengok saja perusahaan-perusahaan terbaik dibidangnya.
3. Takut Kalah atau
Rugi
Ketika kita
memperlakukan saham sebagai produk spekulasi, kita akan berhadapan dengan
istilah menang dan kalah. Namun, saat kita menempatkan saham sebagai instrumen investasi, tentusaja masih
ada kemungkinan rugi. Namun negeri ini bertahun-tahun memiliki setumpuk
investasi yang terbukti menguntungkan, dan masih juga menapak masa depan dengan
begitu besar potensi keuntungan.
"Saat ini cukup dengan selembar uang pecaha terbesar negeri ini, kita sudah bisa menjadi investor saham. Begitu banyak alasan untuk kita memulai investasi dan tidak perlu takut. Lagipula, memulai dengan uang Rp100.000 tidaklah menyakitkan kan?
0 comments :
Post a Comment